Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 24 Oktober 2011

Manfaat Tik dalam bidang:Militer, Pendidikan, Kesehatan, Perdagangan, Otomotif

Penggunaan Teknologi Informasi telah menyebar ke segala bentuk organisasi. Organisasi organisasi telah sadar bahwa informasi memiliki peran pendukung dalam upaya membuat proses lebih efisien dan efektif.
Informasi dapat digunakan untuk mengukur dan memantau kinerja proses, mengintegrasikan kegiatan yang ada dalam proses, menyesuaikan proses tertentu serta optimalisasi proses.
Organisasi Militer menempatkan Teknologi Informasi sebagai salah satu senjata yang mendukungkekuatan dan persatuan organisasi. Hal ini sejalan dengan kekhasan organisasi Militer yang selalu menuntut kecepatan dan ketepatan informasi sebelum mengambil sebuah keputusan (perumusan strategi). ini berarti teknologi informasi akan sangat berpengaruh terhadap perubahan strategi militer. Dari sisi komandan, Teknoogi Informasi dapat mempercepat penyampaian informasi sehingga dapat mempercepat pengambilan keputusan. dari sisi pasukan, Teknologi Informasi membantu pasukan untuk memperoleh informasi pada waktu dan tempat yang tepat sehingga pasukan menjadi lebih fleksible dalam bergerak.
Dalam doktrin militer, informasi merupakan kunci pada setiap operasi militer. Kegiatan militer yang ada bersandar pada peralatan komunikasi berkecepatan tinggi dan komputer. Berdasarkan fakta ini, terciptalah suatu konsep baru yang disebut dengan Perang INformasi (information Warfare) yaitu persaingan untuk mendapat keunggulan informasi.
Teknologi informasi dikombinasikan dengan teknologi perang lainnya memungkinkan untuk menciptakan jenis perang yang secara kualitatif berbeda. Seperti penggunaan robot pada saat penyergapan Nordin M Top palsu. Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat juga menyebabkan perubahan yang sangat cepat dalam bidang militer. Mungkin juga beberapa puluh tahun lagi militer akan memakai robot untuk berperang, bukan dengan manusia lagi.
Seperti yang telah saya sebutkan di atas, perkembangan yang cepat dari teknologi informasi beserta teknologi perang lainnya memungkinkan menciptakan jenis perang yang secara kualitatif berbeda. Perang Teluk merupakan perang dimana penguasaan pengetahuan mengungguli senjata dan taktik, seperti yang ditulis oleh Alan D. Campen “satu ons silikon didalam sebuah komputer mempunyai effek yang lebih dahsyat dari satu ton uranium”. Dengan penguasaan pengetahuan yang disebabkan oleh kemajuan dalam bidang teknologi informasi,
musuh dapat dibuat bertekuk lutut melalui sarana yang berupa teknologi komputer. Sebagai contoh penggunaan program kecerdasan buatan untuk mensimulasikan formasi dan kekuatan musuh memungkinkan serangan menjadi efektif dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi.
Di TV, orang Amerika bisa menyaksikan pergerakan pesawat, tank, dan kendaraan yang lain dalam Perang Teluk, tetapi mereka tidak mengerti bagaimana arus informasi yang menyebabkan semua itu terjadi. Arus informasi itulah yang lebih penting dalam fungsi militer. Ini dimungkinkan karena Amerika Serikat mempunyai “senjata” yang sangat hebat yaitu AWACS (Airborne Warning and Control System) dan J-STARS (Joint Surveillance and Target Attack Radar System). AWACS sebetulnya merupakan pesawat Boeing 707 yang dilengkapi dengan komputer, sarana komunikasi, radar, sensor yang dapat memantau 360 derajat, untuk mendeteksi pesawat dan senjata musuh dan mengirimkan data tersebut kepada J-STARS di darat. J-STARS dapat memberikan sasaran dan gambar pergerakan musuh kepada komandan pada jangkauan 155 mil dalam segala cuaca dengan ketepatan 90 persen. Dengan menggunakan teknologi ini maka sasaran dapat dipilih lebih pada menara gelombang mikro, sentral telepon, jaringan serat optik, dan sarana lain pembawa kabel koaksial komunikasi (Toffler, 1993).
Secara strategis perang informasi mempunyai arti yang penting karena sistem informasi ini berhubungan dengan masyarakat. Dengan demikian manusia tidak lagi menjadi target utama dalam perang melainkan informasi. Dilatar belakangi oleh alasan ini lahirlah konsep perang tanpa korban (victimless war), yang secara etis lebih dapat diterima. Seperti dinyatakan Freedman, L. (1996), dalam Lecture on Information Warfare: Will Battle Ever Be Joined?. Konsep Perang Informasi didukung perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan kemampuan pasukan, merubah cara kerja organisasi, skala organisasi, sistem integrasi, dan infrastruktur perang ataupun militer.
Dalam hal peningkatan kemampuan pasukan, US Army mencoba model pertempuran yang menghubungkan setiap prajurit dengan sistem senjata secara elektronis. Tim peneliti dari Motorola dan laboratorium US Army di Natick, Massachusetts, merencanakan suatu prototipe dari peralatan untuk tentara masa depan. Helm prajurit dilengkapi dengan mikrofon untuk
komunikasi, night-vision goggles dan thermal-imaging sensors untuk melihat di tempat gelap, dilengkapi layar di depan mata untuk mengetahui posisi dan mampu memberikan informasi yang akurat. Selama simulasi pertempuran di Fort Leavenworth, Kansas, divisi infantri dengan 20.000 personel, yang dilengkapi perlengkapan yang mutakhir tersebut, mampu menaklukkan pasukan dengan kekuatan tiga kali lebih besar. (Washington, D. W. Onward Cyber Soldier. Time Magazine, 146 (8)).
Perkembangan teknologi informasi akan berpengaruh pada sistem pelatihan dan pendidikan terutama yang berkaitan dengan senjata baru. Karena penggunaan teknologi informasi yang cukup intensif, tentara mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan orang yang bergerak pada bisnis. Seperti hasil survei yang dilaksanakan oleh North Carolina's Center for
Creative Leadership. Hanya 19 persen dari manager di Amerika mempunyai pendidikan post graduate, sedang di tentara 88 persen Brigadir Jenderal mempunyai pendidikan post graduate. Jadi, dalam peperangan saat ini militer tidak hanya sekedar menarik pelatuk saja tetapi memerlukan personel dengan kemampuan yang cukup tinggi.

Bukan hanya organisasi militer saja yang telah mampu memanfaatkan Teknologi Informasi, organisasi terorispun telah memanfaatkan Teknologi Informasi sebagai salah satu senjatanya. Pertama, adalah bahwa terorisme telah menggunakan media baru seperti internet untuk berkomunikasi, baik sesama teroris maupun untuk mencari pengikut. Kedua, dengan sifat internet yang global dan canggih, para pelaku terorisme nampaknya mempunyai latar belakang pendidikan dan pemanfaatan internet yang cukup bagus.
Seperti halnya Laptop milik Nordin M Top, para ahli Informatika dari Kepolisian pun berupaya dengan susah payah untuk dapat membuka dan mengetahui isi dari laptop milik gembong teroris nomor satu di Indonesia ini. Untuk itu di harapkan agar para tentara Indonesia tidak kalah dalam penggunaan Teknologi Informasi dari para teroris supaya dapat mewujudkan pertahanan negara yang kuat dan kokoh.

2.  Pendidikan

Semenjak globalisasi telah masuk ke Indonesia, semenjak itu pula segalanya mulai berubah. Tak terkecuali dunia pendidikan. Pengaruh teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) memberi banyak manfaat. Dimulai pemanfaatan satelit palapa, program ACI, radio pendidikan, hingga SBJJ seperti Universitas Terbuka. Tambah lagi kebijakan Renstra untuk tahun 2009 yang berbasis penguasaan TIK dan pemanfaatannya pada institusi pendidikan di Indonesia dalam membentuk masyarakat belajar…Sungguh kereen pikirku pada awalnya. Terlintas sedikit mimpi-mimpi akan Pendidikan Indonesia yang lebih mudah dengan adanya TIK. ? ? 
Namun  saat kemaren bertemu dengan seorang teman yang juga alumni TP yang menjadi guru TIK, aku hanya terdiam. Bagaimana tidak?nyaris seharian aku melihat ia menginput data nilai siswa di komputer tuk di upload di internet ke depdiknas. Meski terlihat keren (dah ada data base online nih ceritanya DEPDIKNAS), tapi kok..saat melihat struktur, dan isinya… speechless deh. Cape deeh.. RPP (Rancangan Pengelolaan Pengajaran ) diiinput sendiri, trus nilai tiap siswa, tiap pokok bahasan, diisi sendiri, harus online pula. Coba bayangkan tiap anak misalnya belajar mata pelajaran Biologi. Mata pelajaran itu terdiri dari 10 pokok bahasan, lalu satu kelas 30 siswa. Then 1 angkatan terdiri dari 5 kelas. Itung deh sendiri, sebanyak apa data nilai yang harus dimasukkan?..tambah lagi parahnya lagi.. tiap pokok bahasan yang tersusun RPPnya itu, ama program database itu nggak tersusun secara alphabet ataupun berurutan secara nomor… Walah-walah… Kok kesannya guru jadi korban teknologi lagi.. Ckckck… Sangking batnya tuh temen…, asyik aja dia masukin nilai dengan alasan.. ‘Jangan mau dibodohi ama sistem, kalau sistem bisa membuat kita kewalahan, kita juga bisa sebaliknya.’
Nggak cuma itu..coba kalo guru yang menginput tuh data masih ‘gaptek’? temenku itu aja yang bisa dikatakan melek teknologi udah kewalahan.. apalagi mereka. Aku jadi mikir.. pimpro ini, mikir jauh ke depan nggak sih? Visionerkah dirinya?Atau berlindung pada kilahan politis proyek percobaan?
Ironis memang… mo nyalahin tuh temen?tuh sistem?tuh komputer?ato apa?… Hmm… klise memang kalo dibilang nggak ada dana?yah nggak juga… dibilang cuma proyek kerjaan.. yah nggak juga sih… ato banyaknya potongan di jalan berakibat cuma bisa buat database kayak gitu.. yah terserah para pembaca menilai sih. Namun akan lebih baik, jika para temen-teman mahasiswa teknologi pendidikan mengkritisi hal-hal semacam ini, ataupun hal-hal lain diluar ini..yang berkaitan dengan masalah belajar dan kinerja..dengan mengirim tulisan ke media. Seperti teori yang telah didapat di mata kuliah Inovasi dan difusi pendidikan…tau kan bedanya inovasi n perubahan? Kalo nggak kita yang mengkritisi..siapa lagi?jangan maen tunggu-tungguan ah…mumpung jadi mahasiswa, jadi kontrol sosial euy…
 

3.Kesehatan
Sistem berbasis kartu cerdas (smart card) dapat digunakan juru medis untuk mengetahui riwayat penyakit pasien yang datang ke rumah sakit karena dalam kartu tersebut para juru medis dapat mengetahui riwayat penyakit pasien. Digunakannya robot untuk membantu proses operasi pembedahan serta penggunaan komputer hasil pencitraan tiga dimensi untuk menunjukkan letak tumor dalam tubuh pasien.
4. Bidang Perdagang
Penerapan TIK pada bidang bisnis misalnya, TIK telah banyak digunakan untuk mendukung proses bisnis yang terjadi pada perusahaan, baik bidang ekonomi maupun perbankan. Dengan hadirnya aplikasi-aplikasi dan layanan e-bussiness, e-commerce, e-banking dan lain-lain. Kebutuhan efisiensi waktu dan biaya menyebabkan setiap pelaku bisnis merasa perlu menerapkan teknologi informasi dalam lingkungan kerja. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi menyebabkan perubahan bada kebiasaan kerja. Misalnya penerapan Enterprice Resource Planning (ERP).

5. Bidang Otomotif
Tidak berlebihan jika salah satu pakar IBM menganalogikannya dengan perkembangan otomotif sebagai berikut: “seandainya dunia otomotif mengalami kemajuan sepesat teknologi informasi, saat ini telah dapat diproduksi sebuah mobil berbahan bakar solar, yang dapat dipacu hingga kecepatan maximum 10,000 km/jam, dengan harga beli hanya sekitar 1 dolar Amerika !”. Secara mikro, ada hal cukup menarik untuk dipelajari, yaitu bagaimana evolusi perkembangan teknologi informasi yang ada secara signifikan mempengaruhi persaingan antara perusahaan-perusahaan di dunia, khususnya yang bergerak di bidang jasa. Secara garis besar, ada empat periode atau era perkembangan sistem informasi, yang dimulai dari pertama kali diketemukannya komputer hingga saat ini. Keempat era tersebut (Cash et.al., 1992) terjadi tidak hanya karena dipicu oleh perkembangan teknologi komputer yang sedemikian pesat, namun didukung pula oleh teori-teoribaru mengenai manajemen perusahaan modern. Ahli-ahli manajemen dan organisasi seperti Peter Drucker, Michael Hammer, Porter, sangat mewarnai pandangan manajemen terhadap teknologi informasi di era modern. Oleh karena itu dapat dimengerti, bahwa masih banyak perusahaan terutama di negara berkembang (dunia ketiga), yang masih sulit mengadaptasikan teori-teori baru mengenai manajemen, organisasi, maupun teknologi informasi karena masih melekatnya faktor-faktor budaya lokal atau setempat yang mempengaruhi behavior sumber daya manusianya. Sehingga tidaklah heran jika masih sering ditemui perusahaan dengan peralatan komputer yang tercanggih, namun masih dipergunakan sebagai alat-alat administratif yang notabene merupakan era penggunaan komputer pertama di  Dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar